Dinamika bunuh diri manusia

4 03 2009

Judul ini sebenarnya adalah frase yang umum di dunia biologi. Tentang life cycle makhluk hidup, atau tentang kelakuan manusia yang membunuhnya perlahan – lahan. Contoh mudahnya merokok dan makan junk food. Perlahan – lahan membunuhnya dengan mengurangi sisa hidupnya tapi tetap dilakukan.

‘Life is simple, we just make it complicated’ – The Prestige. Pernyataan sesimpel ini yang sering terlupakan oleh saya. Betapa manusia tidak menyadarinya, selalu menciptakan teknologi yang semakin inovatif sebetulnya semakin menyulitkan hidup mereka. Semakin jauh dari alam kita, padahal kita adalah bagian darinya. Pernahkah kita berpikir bahwa kita berlari di dalam roda besar kehidupan, seperti hamster kecil sibuk mencari ujungnya padahal hanya akan membawa kita kembali ke titik awal? Mungkin suatu saat Aristoteles akan bangkit dari kuburnya dan mengatakan pada kita bahwa bumi itu bulat. Look no further.

Lihat apa yang kita lakukan pada Flintstones!?! Kita membuatnya berlari jauh dengan kakinya sambil mengangkat – angkat mobil dari batu yang pasti sangat berat. kasian kan capek..Semua itu demi label besar di dahinya, ‘hai, aku beradab.’

Kau tahu apa yang dilakukan flintstones asli? Dia tidur dan makan. Itulah kita. Dengan sebuah tujuan besar dia tahu mengapa dia harus tidur dan makan. Itu yang membedakan kita dari flintstones. Kita tahu sesuatu. Kita diberi tahu.

— Saya tidak mau mengutuk peradaban. Saya sudah larut di dalamnya, saya bagian darinya. Dan saya tidak memutuskan melepaskan diri darinya.

Luar biasa membayangkannya. Bagaimana kita bersusah payah menciptakan cara untuk berkomunikasi lebih baik, sampai lebih cepat, mengerjakan sesuatu sambil mengerjakan sesuatu. All in one. Kita diperintah untuk menuntut ilmu setinggi langit, dan kembali ke asalnya. Pernahkah kita kembali ke asal kita? Semua yang kita lakukan untuk mempermudah hidup kita hanya membuat hidup kita semakin sulit. Penyangkalan yang kita buat karena kita tidak terima pernyataan ‘hidup ini sangat sederhana’.

Apakah suatu saat nanti kita semua dapat menghindarinya? Saya rasa tidak, kita memang dirancang untuk menghancurkan diri sendiri. Semua yang disediakan alam dibuat untuk membunuh kita. Apa kau mau hidup selamanya? Kita pasti mati. Semua hamster pasti mati.

Kita tinggal di roda. Seharusnya kita sudah tahu itu, ujung keajaiban ilmu pengetahuan berakhir pada awal. Sejak lahir setiap ulang tahun kita melompat dan mem-forward satu peradaban. Dari peradaban yang paling awal pun kita lahir dengan cara yang sama. Kita diwariskan pengetahuan satu peradaban dalam satu tahun. Lalu mempelajari kemajuan dari peradaban berikutnya di tahun berikutnya, dan seterusnya dan seterusnya. Baby boomers, boomers, gen xyz..

Mengapa semua orang menyatakan sekaranglah akhir zaman sementara kita tidak tahu kapan itu. Apa yang mereka rasakan? Bahwa kehidupan ini seperti roda dan kita akan kembali ke awal? Berpikir apa yang saya pikirkan?

Semua yang terjadi belakangan ini. Go green, tanam kembali. Better live in high density, jangan tinggal jauh – jauh dari tempat kerja. Sustainability. Reduce more, kurangi, kurangi, kurangi. Pepatkan, sederhanakan.

Semua jawaban yang kita temukan kontra dengan gaya hidup kita saat ini. Tinggal seberapa lama kita mampu berkelit. Apakah kita perlu berjejaring ke ujung dunia? Zaman ini memerlukannya. Kita tidak.

Dalam buku connections : the changing status of the city, of architecture, of urbanism; the generation of activity, physically linking programs, people, and uses dijelaskan bahwa sebuah kota dengan pengaturan jalan – jalannya, suatu saat akan semakin melebur. Dengan konsepnya bertahap dari present, future, menuju radical future, beberapa gambar konseptual yang sangat jelas antara kota dengan jalan raya, gedung – gedung, mobil yang mengantarkan dari satu tujuan ke tujuan lain menjadi kota tanpa jalan – jalan penghubung, semua berjalan dari satu kebutuhan ke kebutuhan lain yang jaraknya satu langkah.

Kita dianjur untuk hidup one stop, mixed use. Jangan keluar dari gedung karena semua kebutuhanmu ada di sini. Bukankah itu sama saja dengan tinggal di kampung halamanmu dan jangan berjejaring ke ujung dunia! Sepertinya kita semua sadar bahwa ‘lebih’ adalah menghabiskan energi, di mana kita sedang berjuang mengkonservasikannya.

Kalau tahu akhirnya kita pun harus hidup sama saja dengan nenek moyang kita, kenapa kita harus melewati ribuan tahun untuk sadar? Yah saya pun mensyukuri sudah melewati ribuan tahun itu, dan siap menghadapi ujung roda itu. Bahkan saya menantikannya.

Semua orang punya angan – angan yang sama tentang surga. Tentang dunia yang ingin mereka tinggali secara abadi. Saya tidak percaya mereka secara tidak sadar menciptakan dunia yang tidak sesuai dengan angan – angannya. Saya hanya berharap surga tidak berisi gedung – gedung tinggi.

Kau tahu, semua yang kita lalui adalah sama. Diulang – ulang seperti latihan soal fisika. Hanya kasusnya berbeda. Semua kejadian adalah sama saja. Di sebuah soal menggunakan lebih banyak gaya, sedangkan di soal lainnya diberikan lebih banyak tekanan. Kita hanya memerlukan sebuah rumus untuk melewatinya. Rumus mutlak kehidupan. Prinsip – prinsip yang kita pakai untuk mencapai keseimbangan alam. Sebuah sama dengan (=), sebuah equivalen. Apa yang kita cari sebenarnya bukan jawaban. Jawaban itu hanya tidak ditulis saja, jika kita mengerjakan sebuah soal terbalik, jawaban dulu, kita akan menemukan soalnya. Ya, sebuah persamaan.

Tentu saja, jawaban itu sudah ada, jawaban selalu ada, orang selalu mencari jawaban, kita selalu berusaha menjawab. Apakah jawaban itu sudah tepat? Merupakan equivalen dari soalnya? Rumus apa yang kita pakai untuk mencapai keseimbangan, prinsip apa?

Kau tahu, membicarakan kata Maha berarti paling, lebih. Dan jika membicarakan Tuhan kita tidak akan sampai. Karena kita tidak didesain untuk sampai ke situ. Saya tidak ingin menghabiskan waktu untuk mencari jawabannya, saya percaya ia yang akan menemukan saya jika saya mencapai (=).